Cerita #9 – Perasaan Yang Salah Eps. 08

“Berapa hari di Indonesia?” Tanya Dani sambil menarik koperku masuk ke dalam bandara.

“Mungkin satu minggu” jawabku

“Minta carikan tiket pesawat tengah malam sambil nangis sesenggukan cuma untuk pulang 1 minggu?” Dani menghentikan langkahnya sambil menatapku heran.

“Prof. Henk akan mengadakan kuis dan presentasi di minggu depan. Aku tidak mungkin melewatkannya” Jawabku singkat. Dani pun melanjutkan langkahnya.

“Baik-baik disana. Salam buat keluarga” Dia memelukku erat.

“Hei aku cuma pulang seminggu” Jawabku sambil tertawa.

“Seminggu pun sudah membuat salah satu kios es krim dekat Mollen De Valk merugi” selorohnya

Aku melepaskan pelukannya. “Aku pulang dulu ya” lanjutku.

“Jangan cengeng disana. Ga ada yang bisa memelukmu soalnya” Wajah Dani tiba-tiba serius. Dan aku jadi teringat dada bidang tempat bersandar hingga aku ketiduran.

Bandara Soekarno Hatta pagi ini.

Aku berdiri kebingungan. Rumah bude, apartement Lita, atau meluncur ke rumah ibu. Opsi terakhir adalah hal yang tidak mungkin. Aku sudah berjanji untuk menutup akses apapun bagi aku dan Sena hingga dia menikah atau sebaliknya aku yang menikah.

Kuputuskan untuk menelpon Lita. Tapi urung kulakukan. Atau bergegas ke rumah bude? takutnya Sena mencium kedatanganku. Akhirnya kuputuskan aku tinggal di hotel, nyekar ke makam orangtua lalu kembali ke Belanda secepatnya.

Berat ya. Aku seperti seorang buronan yang cemas tertangkap saat memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku seperti bukan pulang ke rumah sendiri . Aku merasa tidak diterima di tempat ini, merasa sendiri dan kesepian.

Aku menghirup udara Jakarta. Menengadahkan wajah ke atas, mencium aroma cinta yang tertahan, rindu yang tak kan terobati, perasaan bersalah yang besar, juga kenangan yang belum bisa hilang.

Aku masuk ke dalam kamar hotel. Auranya sama seperti saat aku keluar dari rumah ibu lalu memutuskan tinggal di hotel. Hampa, sepi dan kosong..

“Nona kecil. Sudah sampai kah?” Bunyi pesan whatsapp mengagetkan lamunanku.

“Baru sampai lagi selonjoran”. “Jangan panggil anak kecil. Aku sekarang sudah hampir 23 tahun” protesku.

“Usia 23 tahun dan masih sering menangisi es krim” Dani membalas dengan emoticon meledek.

“Cepat pulang” Lanjutnya “Aku sudah kangen”.

Lalu aku tertawa ngakak.

  Cerita #3 - Perasaan Yang Salah Eps. 02

“Niken?” Lita melihatku dengan mata melotot antara kaget dan tidak percaya melihatku sudah berdiri di depan pintu kmarnya.

“Ini Niken apa Raissa? Busyet kamu cantik banget!”

“Aku kangen nyekar ke makam ayah ibu. Mendadak. Ga sempat mengabari apalagi membawakan oleh-oleh untukmu”

Lita mengibaskn tangan di wajahnya.

“Katakan apa kabar Belanda? Sudah ketemu bule kece?” tanya Lita antusias.

“Ih kamu apaan sih..” tiba-tiba bayangan Dani melintas.

“Mau kuantar ke rumah Sena?”

“Jangan! Mereka jangan sampai tahu aku disini.” jawabku cepat

Lita menarik napas panjang “Berat sekali hidupmu Ken..” dia mengusap tanganku untuk memberi kekuatan.

“Oke mana barang-barangmu? Kamu menginap disini kan?”

“Tidak. Aku tidur di suatu tempat”

“Aku bahkan tidak boleh tau kamu tidur dimana” tanya Lita sambil berteriak tertahan.

Niken membalasnya dengan senyuman. Dia ingin semua orang tau terutama bapa ibu tentang betapa gigih usahanya melupakan Sena meskipun dia hampir mati dibuatnya.

Ini hari kedua Niken berada di Indonesia. Seharian kemarin selain menghabiskan waktu
di apartement Lita, dia juga mengunjungi makam orangtuanya. Memastikan makam selalu terawat, menanam beberapa tanaman cantik di sekitarnya, berdoa dan mengaji hingga berjam-jam dan pulang ke hotel dalam keadaan lelah karena menangis.

Hari ini dia memutuskan kembali ke makam untuk meyerahkan biaya perawatan dan memberi tips pada penjaga agar makam ibunya selalu mendapatkan perhatian. Pulang dari sana Niken memutuskan untuk singgah di rumah bulek Dian.

Sama seperti yang sudah kubayangkan. Dia menyambutku histeris. Jika melihatku saja tangisannya seperti ini, tak dapat kubayangkan sekencang apa tangisannya saat kehilangan orangtuaku, saudaranya beliau.

“Niken udah menceritakan bagaimana Niken setahun belakangan. Tapi tolong tetap sembunyikan ini dari Sena dan keluarganya ya. Biar usaha Niken setahun ini tidak sia-sia Lek” pintaku pada mereka

“Kamu bahagia toh nduk disana?” mereka menanyaiku cemas.

  Cerita #6 - Perasaan Yang Salah Eps. 05

“Kata paklek aku semakin cantik seperti Raisa. kalau tidak bahagia mana mungkin saya bisa seperti ini. jawabku disambut gelak tawa mereka.

Hari ini mereka menyambutku dengan bahagia. Menjamuku dengan makanan istimewa yang tidak kutemukan disana. Gudeg Jogja lengkap dengan pindang telur, krecek dan sambel super pedes. Ya ampun aku memekik melihatnya. Selama ini hidupku hanya ditemani sandwich, salad, pasta dan sesekali diajak Dani makan masakan Asia. Niken memotret sajian luar biasa tersebut dan mengirimkannya pada Dani.
Saat ini di Indonesia waktu menunjukan pukul 11 siang, artinya di Belanda pukul 7 menjelang maghrip. Dani jam segini biasaya masih menyusuri lorong sekitar kampus.

“Tega sekali ya kirim ginian. Apa aku harus beli tiket malam ini juga?” Dani membalas WA saat kukirim gambar gudeg Jogja.

“Enjoy dear. Makan yang banyak” lanjutnya. “Aku kangen”.

“Kangen pohon pisang?” tanyaku

“Bukan dong”

Aku tersipu sendiri

“Kangen keripiknya” lanjutnya

Lalu aku tertawa ngakak. Diam-diam paklek dan bulek mengintipku sambil mengusap dadanya dan tersenyum.

Selesai makan aku minta ijin mereka untuk pergi sebentar. Pakle dan bulek tinggal
di pinggiran kota Jakarta. Setiap akhir minggu biasanya aku dan Sena akan mengunjungi mereka.

“Kasian anak itu nduk, dia bolak balik kesini kaya anak linglung” Aku teringat kembali ucapan bulek tadi pagi.

“Dia sampai sujud di kaki bulek agar bulek memberi tau dimana kamu berada. Tapi sekarang tidak pernah tanya-tanya lagi sejak bulek menangis sesenggukan agar dia tak lagi memaksa. Entah apa kabarnya, sudah hampir setengah tahun bulek tidak melihatnya” bulek melanjutkan cerita sambil sesekali menghapus air mata dengan ujung jariknya.

Dadaku terasa sesak. Ingin rasanya kutumpahkan air mata di dalam taksi sepanjang Jakarta yang kulewati ini.

“Mbak mau kemana?” tanya supir ramah.

“Saya mau ke sekitar BSD ya pak..”

“Tiba-tiba aku kangen Serpong. Kangen rumah dimana aku menghabiskan sebagian hidupku

“Stop Pak!” ujarku pada supir di depan rumah yang sangat kukenali ini. Tak ada yang berbeda, masih sama seperti yang dulu. Ingin rasanya aku turun dan berlari ke rumah menghambur ke pelukan ibu lalu tertidur di pelukan Sena. Tapi aku sudah memutuskan ini bukan saatnya.

Tiba-tiba aku melihat Kang Parman satpam rumah membuka pintu pagar. “Siapa yang keluar” bisikku dalam hati. Dan jantungku nyaris copot saat kulihat mobil Sena berjalan keluar.

“Ikuti mobil itu Pak!” Aku memberi instruksi pada supir. Duh apa-apaan sih aku ini. Aku mengutuk diri.

Mobil Sena berhenti di depan sebuah klinik kecantikan. “Klinik Diva” ujarku tertahan. Kuamati dia keluar dari mobil, melepaskan kacamatanya dan berjalan tegap masuk ke dalam. Sedikit kurusan, tapi nampak terawat. Sepertinya dia tidak lagi rajin bersepeda.

  Cerita #1 - Sakitnya Dikhianati 💔

Tidak lama aku melihat Diva keluar dari dalam mobil diiringi Sena. Mereka berbincang sambil tertawa-tawa. Ada hati yang teriris dan cemburu yang tidak bisa kutahan. “Jalan pak!” perintahku pada supir.

Aku turun di sebuah cafe. Dulu, tempat ini adalah tempat favorit aku dan Sena. “Hai mbak, lama ga kelihatan” seorang pramusaji menyapaku ramah. Mempersilakanku untuk duduk di dekat jendela. Tempat favorit bila aku dan Sena berkunjung kesini. “Mau pesan apa?”

“Jus apel dan coklat hangat” Aku refleks menjawab. Setelahnya aku tersadar betapa banyak hal di memoriku yang sulit hilang.

Satu gelas coklat hangat dan satu gelas jus apel yang berdiri berdampingan dengan satu sedotan di atasnya. Tiba-tiba air mataku menetes. Antara terluka dan bahagia melihat Sena dan Diva, juga bersedih melihat bayangan kenangan diantara segelas coklat hangat dan jus apel dihadapanku.

Aku berjalan menuju meja kasir dan membayar minumanku “Loh mbak, ko ga diminum? tanyanya

“Saya cuma sebentar. Nanti kembali lagi”ujarku berbohong.

Segera kupanggil taksi. Aku perlu tempat sendiri untuk menangis.

Sena dan Diva turun dari dalam mobil. Mereka memasuki sebuah cafe untuk ngopi.

“Jadi setelah ini mau kemana” tanya Diva.

“Balik ke kantor. Papa bilang ada beberapa mesin yang harus kuperiksa hari ini” Ujar Sena sambil duduk di bangku kosong dekat jendela.

Hari ini entah kenapa perasaannya sedikit aneh. Ada sedih sekaligus ada bahagia. Mata tajamnya menatap lurus ke depan. Jemarinya mengetuk- ngetuk meja tanda dia gelisah. Tanpa sengaja matanya tertuju pada dua gelas minuman di meja tak berpenghuni. Dua gelas dengan satu sedotan. Sena terkesiap. Dia memperhatikan minuman itu lekat-lekat.
“Jus apel dan susu coklat” bisiknya pelan seolah tak percaya.

“Diva sorry aku harus pergi. pulanglah dengan taksi!” Sena langsung sigap berdiri dan berlari ke parkiran. Dia tau dia harus kemana saat ini.

 

Bersambung..

Sebelumnya Episode 7Selanjutnya Episode 9

Dari Group Facebook, Penulis : Yayuk Hartini

You May Also Like

Apa Tanggapan Anda??

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *